
Bagi sebagian orang, membayangkan pondok pesantren itu pasti tidak jauh-jauh dari kolam mandi raksasa (bak jepon) berlumut, gayung pecah yang diselamatkan selotip, dan tradisi makan bareng beralas nampan seng (talam). Namun, jika Anda mampir ke Pondok Pesantren Diponegoro di bawah asuhan KH M Syakir Ali MSi, bayangan romantis nan tragis itu harus segera didekonstruksi. Di sini, kami sudah melakukan lompatan teknologi yang bikin santri era kolonial bakal iri setengah mati: mandi pakai kran ala shower dan makan di piring personal yang berdaulat.
Perubahan ini jelas merupakan sebuah berkah, sekaligus ujian eksistensial bagi kami, para santri.
Mari kita bicarakan soal kamar mandi. Lupakan takdir berebut gayung estafet. Di Ponpes Diponegoro, bilik mandi kami sudah dilengkapi kran yang dipasang agak tinggi, didesain sedemikian rupa agar pancaran airnya jatuh ke kepala menyerupai shower di hotel-hotel berbintang—ya, anggap saja bintang satu versi syariah.
Sensasi mandi subuh di sini rasanya seperti sedang berada di bawah air terjun es draf pegunungan. Bedanya, tidak ada pemandangan hijau, yang ada hanyalah suara ketukan pintu dari luar berkekuatan 7,5 Skala Richter dan teriakan, “Woi, serakahan amat, gantian!” Kamar mandinya boleh modern, tapi mentalitas “antrean semi-militer” menjelang Subuh tetaplah kearifan lokal yang tidak bisa punah.
Lalu, mari masuk ke urusan logistik perut. Di saat pesantren lain masih melestarikan diplomasi satu nampan dimakan berenam—yang sering kali memicu perang dingin akibat oknum santri yang makannya secepat mesin jet—Ponpes Diponegoro sudah menganut paham individualisme yang maslahat. Kami makan pakai piring masing-masing.
“Makan pakai piring masing-masing itu melatih kami menghargai apa yang ada di depan mata. Kami belajar mencuci piring sendiri, merawat barang sendiri, dan kelak, bertanggung jawab atas masa depan sendiri,” ucap seorang santri sembari menggosok pantat piringnya yang hitam.
Piring ini adalah simbol kedaulatan seorang santri. Di atas piring itu, hak asasi kami atas sebongkah tahu dan sejumput sayur dijamin sepenuhnya oleh hukum pondok. Tidak akan ada insiden lauk hilang secara misterius saat Anda lengah berkedip. Namun, aturan piring mandiri ini melahirkan disiplin baru: hukum tabur tuai. Siapa yang makan, dia yang harus mencuci piringnya sendiri sampai mengilat. Alhasil, area wastafel setelah jam makan siang bertransformasi menjadi ruang sidang terbuka bagi mereka yang malas menggosok pantat piring yang menghitam.
Di balik semua modernisasi fasilitas yang bikin hidup kami agak lumayan ini, roh pesantren Diponegoro tetap dijaga ketat oleh sang pengasuh, KH M Syakir Ali MSi.
Sosok Kiai Syakir ini adalah perpaduan epik antara spiritualitas kiai kultural dan intelektualitas akademisi. Gelar M.Si.-nya bukan pajangan. Kalau beliau sudah rawuh di depan aula memakai sarung, memegang draf kitab kuning, lalu mulai membedah hukum Islam dengan metodologi yang runtut dan logis, rasanya kepala kami seperti di-upgrade paksa. Beliau mengajarkan bahwa santri Diponegoro itu tidak boleh gagap zaman. Boleh saja mandi pakai kran ala shower modern, tapi urusan wirid, ngaji, dan akhlak harus tetap sekokoh santri zaman dulu.
Kehidupan di Ponpes Diponegoro pada akhirnya adalah sebuah kompromi yang indah antara kenyamanan modern dan ketatnya tirakat. Kami beruntung tidak perlu lagi merasakan nestapa kulit keriput akibat air jepon yang jarang dikuras, atau gigit jari karena kalah cepat merebut daging di atas nampan. Namun, fasilitas yang makin manusiawi ini justru menjadi alarm besar: kalau fasilitasnya sudah senyaman ini tapi kami masih malas mengaji, di depan Kiai Syakir nanti, alasan apa lagi yang mau kami sampaikan? Pura-pura piringnya belum dicuci? Ah, itu terlalu amatir.
Oleh: Kang Santri mBeling