
Sleman – Dalam upaya menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas layanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Manajemen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Diponegoro menggelar rapat koordinasi bersama para pimpinan lembaga pendidikan di lingkungan Diponegoro. Pertemuan ini berlangsung di Ruang Meeting SPPG Diponegoro pada Senin (19/01/2026) pukul 14.00 WIB.
Agenda ini dihadiri oleh tim manajemen, operasional, kepala lembaga, serta Person in Charge (PIC) dari masing-masing unit sekolah. Rapat difokuskan sebagai wadah jajak pendapat, sinkronisasi kritik, serta saran terkait operasional penyaluran manfaat kepada para siswa penerima program.
Komitmen Kehati-hatian dan Standar Gizi
Membuka diskusi, Kepala SPPG, Raja, menegaskan komitmen timnya dalam menjalankan tugas semaksimal mungkin. Ia menekankan prinsip kehati-hatian dalam setiap pengambilan keputusan dan komunikasi publik, mengingat program MBG saat ini tengah menjadi sorotan luas masyarakat.
Dari sisi gizi, Nurul selaku ahli gizi SPPG menjelaskan bahwa seluruh menu yang disajikan telah melalui tahap analisis kebutuhan gizi. Meski demikian, ia mengakui adanya tantangan dalam variasi menu di tahap awal ini karena keterbatasan alat, namun upaya penyesuaian terus dilakukan.
“Menjadi himbauan kepada PIC dan guru agar makanan yang disajikan wajib dimakan dan dihabiskan segera di sekolah, tidak dibawa pulang demi menjaga kualitas rasa dan tekstur,” ujar perwakilan manajemen dalam rapat tersebut.
Aspirasi dari Tingkat RA hingga MA/SMK
Sesi diskusi berjalan dinamis dengan beragam masukan konstruktif dari para kepala lembaga. Dari jenjang pendidikan usia dini, Bu Nuzul dari RA Masyithoh menyoroti jenis menu sayuran mentah yang sulit dikonsumsi anak TK, serta menyarankan penggunaan ikan fillet untuk keamanan siswa. Sementara itu, Bu Ika dari RA Harapan Bangsa menyampaikan pertanyaan wali murid terkait ketiadaan susu yang kerap dikaitkan dengan slogan lama “4 Sehat 5 Sempurna”.
Menanggapi hal tersebut, pihak manajemen mengklarifikasi bahwa slogan gizi kini telah beralih ke konsep “Isi Piringku” yang lebih menekankan takaran gizi seimbang. Terkait susu, manajemen mengakui adanya kendala kelangkaan stok untuk wilayah DIY saat ini.
Di jenjang pendidikan dasar, Bu Indah dari MI Ma’arif Bego mengusulkan pentingnya pendataan siswa dengan alergi makanan tertentu serta perbaikan kualitas buah.
Sedangkan untuk jenjang menengah, Bu Wiji dari SMP Diponegoro dan Pak Afifi dari SMK Diponegoro menyoroti aspek teknis Quality Control (QC). Masukan meliputi suhu penyajian kuah soto yang sempat dingin saat diterima siswa, kondisi fisik buah saat pengiriman, hingga pengecekan kualitas bahan baku mentah sebelum dimasak. Uniknya, perwakilan MA Diponegoro, Miss Himma, menyampaikan aspirasi siswa dewasa yang mengharapkan adanya tambahan sambal pada menu-menu tertentu.
Tindak Lanjut dan Edukasi
Menutup pertemuan, Pak Khoirudin dari SMP Diponegoro menekankan pentingnya edukasi gizi, tidak hanya kepada siswa tetapi juga wali murid. Manajemen SPPG menyambut baik usulan ini dan berencana mengagendakan sosialisasi lebih intensif, serta terus berkoordinasi dengan pihak koperasi untuk melibatkan produk UMKM lokal dalam penyediaan menu tambahan (snack).
Rapat ini diharapkan menjadi langkah awal perbaikan berkelanjutan agar program MBG di lingkungan Diponegoro dapat berjalan lebih optimal dan tepat sasaran.*(rdp)