
Bagi anak-anak muda Generasi Z, kata self-healing biasanya identik dengan staycation di hotel estetik, dengerin lagu-lagu indie senja sambil minum matcha latte, atau minimal scrolling TikTok sampai ketiduran. Namun, entah karena dapet hidayah dadakan atau karena rayuan maut orang tua, sebagian dari mereka justru memilih jalur healing yang ekstrem: masuk pesantren.
Gegar budaya (culture shock) pun tak terhindarkan. Bayangkan saja, anak muda yang biasanya hidup berdasarkan algoritma media sosial, tiba-tiba harus pindah ke sebuah tempat yang jangankan sinyal 5G, membawa HP saja taruhannya bisa dicukur botak sebelah oleh pengurus keamanan.
Hari pertama di pesantren adalah ujian mental yang sesungguhnya bagi ornamen skena murni ini. Di rumah, mereka terbiasa mengeluh mental health terganggu kalau kamar tidurnya berantakan sedikit. Di pesantren, mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa satu kamar asrama diisi oleh dua puluh kepala. Konsep personal space atau ruang pribadi yang sering mereka agungkan di Twitter (sekarang X) mendadak runtuh. Di sini, kasurmu adalah kasur bersama, lemari bajumu adalah objek pengamatan umum, dan bantalmu bisa mendadak pindah ke ujung ruangan tanpa ada yang mengaku.
Puncak dari segala penderitaan estetika Gen Z di pesantren adalah urusan kamar mandi. Di rumah, mereka terbiasa mandi pakai shower hangat, ditemani aroma sabun terapi yang menenangkan. Di pesantren, subuh-subuh mereka harus mengantre panjang demi sebuah bak mandi komunal. Aturan tak tertulis pun berlaku: siapa cepat, dia dapat air bersih. Siapa yang telat, silakan mandi dengan air sisa bilasan yang sudah diaduk takdir. Istilah skincare routine sepuluh langkah yang biasa mereka tonton di YouTube langsung ringkas menjadi satu langkah praktis: yang penting basah dan tidak bau acem.
Bukan cuma itu, kosakata mereka pun dipaksa hijrah. Kalau di tongkrongan luar mereka hobi memakai kata literally, which is, preference, atau toxic, di pesantren istilah itu diganti dengan padanan yang lebih membumi. Kata toxic bergeser menjadi ghasab—sebuah tindakan kriminal tingkat rendah namun melegenda di pesantren, yaitu memakai sandal jepit orang lain tanpa izin dan mengembalikannya dalam kondisi putus.
Menariknya, meskipun awalnya mengeluh karena tidak bisa melihat fyp TikTok dan tidak bisa healing, pelan-pelan para santri Gen Z ini menemukan bentuk kedamaian baru. Kedamaian yang tidak pernah mereka dapatkan dari layar smartphone.
“Di luar pesantren kita sibuk mencari validasi lewat jumlah ‘likes’. Di dalam pesantren, validasi tertinggi adalah ketika nama kita tidak dipanggil oleh pengurus keamanan saat pengumuman pelanggaran takzir subuh.”
Mereka mulai paham bahwa mengatasi stres atau kecemasan hidup ternyata tidak harus dengan self-reward beli barang mahal di e-commerce. Stres mereka justru rontok saat dihukum bersama-sama membersihkan halaman pesantren menggunakan sapu lidi—sebuah terapi fisik yang kami sebut sebagai “sapu-lidi-ing”. Ada tawa yang lepas ketika mereka ngobrol melingkar mengitari nampan besar berisi nasi liwet, sebuah momen komunal yang jauh lebih hangat ketimbang saling kirim pesan lewat grup WhatsApp.
Pada akhirnya, pesantren berhasil menjinakkan kebiasaan buruk Gen Z yang serba instan. Mereka yang tadinya mengira tidak bisa hidup tanpa koneksi internet, ternyata baik-baik saja setelah beberapa bulan hanya ditemani kitab kuning dan hafalan bait-bait Nazham Imrithi.
Pesantren membuktikan bahwa Gen Z itu sebenarnya tidak lemah atau lembek seperti yang sering dituduhkan orang-orang tua di Facebook. Mereka cuma butuh tempat yang tepat untuk meletakkan ego, merapikan ekspektasi, dan menyadari bahwa hidup yang aesthetic itu tidak ada apa-apanya dibanding hidup yang berkah dan penuh tawa bersama teman sekamar.*rdp