You need to enable javaScript to run this app.

Bagaimana Hukum Patungan Kurban seperti di Sekolah?

Bagaimana Hukum Patungan Kurban seperti di Sekolah?

Saat memasuki bulan Dzulhijjah seperti saat ini, banyak yang menggalang dana secara patungan untuk bisa mengeluarkan hewan kurban. Sejumlah lembaga pendidikan atau sekolah biasanya mengordinir para siswa sehingga bisa membeli hewan kurban. Bagaimana hukum patungan kurban seperti ini?

 

Perlu diketahui bahwa inisiatif sekolah untuk mengadakan penyembelihan kurban pada Hari Raya Idul Adha adalah sangat baik. Hal ini sebagai pendidikan dini untuk belajar berkurban. Hanya saja apakah status hewan yang disembelih itu adalah ibadah kurban atau bukan? Hal ini membutuhkan data di lapangan.

 

Kalau hewan yang disembelih itu berasal dari penggalangan dana siswa, tentu pembagian dagingnya kepada orang-orang di sekitar sekolah hanya bernilai sedekah biasa. Sedangkan kalau hewan yang disembelih adalah titipan wali murid yang meniatkannya sebagai kurban, maka pembagian daging kurban itu dinilai sebagai ibadah sunah kurban.

 

Pasalnya ibadah kurban merupakan anjuran agama yang bersifat individual. Hal ini tampak dalam penjelasan Imam An-Nawawi sebagai berikut:

 

 الشاة الواحدة لا يضحى بها إلا عن واحد. لكن إذا ضحى بها واحد من أهل بيت، تأدى الشعار والسنة لجميعهم… وكما أن الفرض ينقسم إلى فرض عين وفرض كفاية. فقد ذكروا أن التضحية كذلك. وأن التضحية مسنونة لكل أهل بيت.

 

Artinya: Seekor kambing bisa disembelih hanya untuk ibadah kurban satu orang. Kalau salah seorang dari seisi rumah telah berkurban, maka sudah nyatalah syiar Islam dan sunah bagi seisi rumah itu… Sebagaimana fardu itu terbagi pada fardu ‘ain dan fardu kifayah, para ulama juga menyebut hukum sunah kurban juga demikian. Ibadah kurban disunahkan bagi setiap rumah. (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiyin, Beirut, Darul Fikr, Tahun 2005 M/1425-1426 H, juz 2, halaman: 466).

 

Keterangan di atas menegaskan bahwa ibadah kurban itu bersifat individual. Artinya satu hewan kurban kambing hanya diperuntukkan bagi satu orang, tidak bisa lebih dari itu. Karenanya ibadah kurban itu ditujukan bagi mereka yang mampu. Perhatikan penjelasan An-Nawawi berikut ini:

 

التضحية سنة مؤكدة وشعار ظاهر. ينبغي لمن قدر أن يحافظ عليها

 

Artinya: Ibadah kurban itu sunah muakkad dan syiar yang nyata. Orang yang mampu seyogianya menjaga kesunahan ini. (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiyin, Beirut, Darul Fikr, Tahun 2005 M/1425-1426 H, juz 2, halaman: 462).

 

Dari pelbagai keterangan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa satu hewan kurban kambing hanya berlaku untuk satu orang. Kalau kurban seekor sapi, unta, atau kerbau, hanya bisa diperuntukkan bagi 7 orang. Adapun penggalangan dana pihak sekolah dari para murid untuk membeli hewan kurban adalah baik saja untuk mendidik anak-anak berbagi kepada sesama. Sedangkan mereka memperoleh pahala sedekah atas pembagian daging kepada warga sekitar sekolah.

 

Memang ibadah kurban ini istimewa. Jangankan perihal hewan dan orang yang berkurban, masalah waktu pun bisa menjadi masalah. Orang yang menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat dan khutbah Idul Adha selesai, itu tidak bisa disebut ibadah kurban, tetapi sedekah sunah biasa. Itu pun kalau dagingnya dibagikan kepada orang lain.​​ (rdp)

 
 
Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

H. Imindi Kasmiyanta, S.Pd.

- Ketua Yayasan -

Assalamu’alaikum Wr. Wb.   Sejak didirikan pada tahun 1997 hingga saat ini, Yayasan Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro telah mengalami berbagai…

Berlangganan
Jajak Pendapat

Bagaimana Pengalaman Anda Menempuh Pendidikan di Yayasan Diponegoro?

Hasil
Pengumuman