Mengejar Mahkota, Melupakan Fitrah
Mengejar Mahkota, Melupakan Fitrah
Wed, 9 April 2025 7:30
Doa-Orang-Tua-kepada-Anak-Mustajab

Ada tren yang makin terasa belakangan ini—para orang tua berlomba menjadikan anak-anak mereka hafiz Qur’an.

Bukan karena si anak menunjukkan minat, tapi karena si orang tua merasa: “dulu saya banyak dosa, tak paham agama, maka biarlah anak saya yang menebus semua itu. Kelak saya ingin mahkota di surga”.

Tapi benarkah surga bisa diraih lewat paksaan terhadap anak yang jadi kehilangan kesempatan tumbuh di masa golden age-nya? Benarkah potensi & minat mereka memang menghafal Qur’an?

Menghafal Al-Qur’an itu mulia. Tapi menjadikannya ambisi pribadi yang ditanamkan di pundak anak—yang mungkin justru lebih tertarik pada sains, seni, atau pertanian—bukan lagi ibadah, tapi kompensasi.

Anak-anak bukan mesin penebus masa lalu. Mereka bukan lembar kosong untuk menuliskan ulang mimpi-mimpi kita yang gagal. Tak semua anak punya kecerdasan hafalan. Dalam taksonomi belajar, hafalan itu level dasar. Di atasnya: pemahaman. Lalu penghayatan. Dan yang tertinggi: pengamalan.

Yang langka justru mereka yang melakoni nilai Qur’an—meski tak hafal seluruhnya.

Sesuatu yang dipaksakan jarang bertahan lama. Gak cuma soal pasangan dan perasaan, tapi juga soal hafalan. Apalagi jika sekadar ikut tren. Setelah wisuda tahfiz, jika tak diulang dan dipahami, ayat-ayat itu bisa lenyap seperti kabut pagi.

Islam itu luas dalam kehidupan. Ia bisa hadir di ladang, laboratorium, kitab, ruang gym, atau lensa kamera. Ada banyak jalan menuju ridha-Nya. Jangan kerangkeng anak-anak dalam satu jalur.

Biarlah mereka tumbuh sesuai fitrah dan jenis kecerdasannya. Yang suka menghafal, biarkan menghafal. Yang suka berpikir, biarkan memahami. Yang suka bergerak, biarkan menghidupkan ajaran lewat tindakan nyata.

Al-Qur’an itu sudah pasti dijaga oleh Allah, tapi akhlak anak-anak belum tentu terjaga. Itu sebabnya Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, bukan untuk mewajibkan umatnya menghafal Qur’an.

Maka, mari kita fokus mendidik anak berakhlak Qur’ani, bukan semata memaksa menghafal Qur’an demi ambisi orang tua.

Pesantren

Komentar

Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Artikel Lainnya

Di Balik Sepiring Menu Bergizi: Cerita "Surat Cinta" hingga Perjuangan Menakar Selera
Ada sisi lain yang menghangatkan suasana di ruang meeting SPPG Diponegoro pada S...
Tue, 20 January 2026 | 8:40
Dari Soal Rasa hingga Kendala Susu: Ini Hasil Koordinasi SPPG Diponegoro dan Kepala Lembaga
Sleman – Dalam upaya menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas layanan progr...
Tue, 20 January 2026 | 7:43
Kiandra Ramadhipa: Pulang dengan Kepala Tegak Setelah Musim Eropa yang Menggetarkan
Tahun 2025 menjadi panggung lahirnya sebuah kisah besar dari seorang anak muda S...
Sat, 6 December 2025 | 9:50
Jangan Normalisasi Ciuman atas Nama Barokah
Belakangan ini viral video seorang Gus yang tampak terlalu akrab menciumi anak-a...
Mon, 10 November 2025 | 5:39

Layanan Unggulan YAYASAN PONDOK PESANTREN PANGERAN DIPONEGORO