Mengenang KH Bisri Syansuri, Tokoh Pendiri NU Perintis Pendidikan Islam
Mengenang KH Bisri Syansuri, Tokoh Pendiri NU Perintis Pendidikan Islam
Tue, 21 January 2025 11:27
KH-Bisri-Syansuri

KH Bisri Syansuri merupakan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Ia wafat pada 25 April 1980 di usia 93 tahun. Tepat pada Kamis (25/04/2024), merupakan ke 44 tahun Mbah Bisri, sapaan KH Bisri Syansuri, berpulang ke Rahmatullah. Mbah Bisri dimakamkan di kompleks pemakaman Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

Mbah Bisri semasa hidupnya telah memberikan banyak kontribusi dan peran bagi bangsa dan Nahdlatul Ulama. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Rais ‘Aam hingga Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Ia tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri NU yang menguasai ilmu fikih. Ia belajar kepada Kiai Abdus Salam, seorang ahli dan hafal Al-Qur’an dan juga ahli dalam bidang fikih semasa mengenyam pendidikan di pesantren.

Melalui ajaran gurunya, Mbah Bisri mampu mendalami sejumlah ilmu. Mulai dari ilmu nahwu, sharraf, fikih, tasawwuf, tafsir, dan hadits.

Ia pernah belajar ilmu agama kepada kedua tokoh agama yang terkenal pada waktu itu, yakni KH Kholil Kasingan Rembang dan KH Syu’aib Sarang Lasem. Selepas belajar kepada kedua gurunya, ia melanjutkan berguru kepada Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Saat menimba ilmu di Bangkalan inilah ia kemudian bertemu dengan KH Abdul Wahab Chasbullah, seorang yang kemudian menjadi kawan dekatnya hingga akhir hayat, di samping sebagai kakak iparnya.

Mbah Bisri juga merupakan salah satu murid dari Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari. Ia dikenal dengan kecerdasannya dalam memahami dan memberikan solusi atas berbagai permasalahan umat melalui pendekatan fikih murni.

Peran Mbah Bisri terhadap perkembangan NU tidak hanya seputar keilmuan fikih saja. Ia juga pernah menjadi inisiator pendirian pesantren perempuan pertama. Ia pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, atau lebih dikenal dengan Pondok Denanyar Jombang, sepulangnya menimba ilmu di Makkah.

Di pesantren yang didirikannya ini, Mbah Bisri membuat gebrakan sebagai ulama pertama yang membuka kelas khusus santri perempuan. Kelas ini awalnya diisi oleh santri-santri perempuan di lingkungan pesantrennya, hingga akhirnya berkembang besar.

Upaya Mbah Bisri dalam mendirikan pesantren putri adalah langkah tepat sebagai ulama fikih yang melahirkan terobosan penting demi kemajuan pendidikan kaum perempuan.

Ijtihad kreatif ini dilanjutkan oleh putri Mbah Bisri, Nyai Musyarofah, yang diperistri Kiai Abdul Fattah, Tambak Beras, Jombang. Salah satunya dengan mendirikan pesantren putri di Pesantren Tambak Beras pada tahun 1951. (rdp)

NU, Keislaman, Pesantren

Komentar

Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Artikel Lainnya

Di Balik Sepiring Menu Bergizi: Cerita "Surat Cinta" hingga Perjuangan Menakar Selera
Ada sisi lain yang menghangatkan suasana di ruang meeting SPPG Diponegoro pada S...
Tue, 20 January 2026 | 8:40
Dari Soal Rasa hingga Kendala Susu: Ini Hasil Koordinasi SPPG Diponegoro dan Kepala Lembaga
Sleman – Dalam upaya menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas layanan progr...
Tue, 20 January 2026 | 7:43
Kiandra Ramadhipa: Pulang dengan Kepala Tegak Setelah Musim Eropa yang Menggetarkan
Tahun 2025 menjadi panggung lahirnya sebuah kisah besar dari seorang anak muda S...
Sat, 6 December 2025 | 9:50
Jangan Normalisasi Ciuman atas Nama Barokah
Belakangan ini viral video seorang Gus yang tampak terlalu akrab menciumi anak-a...
Mon, 10 November 2025 | 5:39