Malam Muhadhoroh Tidak Semenakutkan Itu: Catatan untuk Santri yang Sedang Keringat Dingin
Malam Muhadhoroh Tidak Semenakutkan Itu: Catatan untuk Santri yang Sedang Keringat Dingin
Tue, 5 May 2026 7:24
(5)

Bagi sebagian besar santri, malam jadwal muhadhoroh (latihan pidato) adalah malam yang lebih menegangkan daripada malam ujian semester.

Coba ingat-ingat lagi momen itu: duduk bersila di tengah aula asrama, jantung berdebar kencang saat MC (pembawa acara) mulai membacakan nama gilirannya. Lalu, saat nama kita disebut, tiba-tiba kaki terasa seberat palu godam. Tangan berkeringat dingin sambil menggenggam kertas kecil berisi contekan teks pidato yang sebenarnya sudah dihafal berhari-hari, tapi mendadak ambyar tak bersisa di kepala.

Di atas mimbar, menghadap puluhan (atau ratusan) pasang mata teman sendiri, rasanya waktu berjalan sangat lambat.

Jika malam ini kamu adalah santri yang sedang merasakan panik luar biasa itu, mari tarik napas sebentar. Percayalah, muhadhoroh itu tidak semenakutkan kelihatannya.

Bukan Ajang Mencari Orator Terbaik

Banyak santri mundur teratur karena merasa dirinya tidak pandai merangkai kata. Mereka merasa kalah sebelum bertanding karena membandingkan diri dengan kakak kelas yang bicaranya sudah selantang Bung Karno atau sefasih KH. Zainuddin MZ.

Padahal, mari kita luruskan satu hal: esensi muhadhoroh bukanlah tentang siapa yang paling pintar berbicara. Ini murni tentang keberanian melatih diri. Mimbar pesantren itu bukan panggung kompetisi, melainkan “gymnasium” atau tempat fitness bagi mental kita. Di mimbar itulah urat malu kita ditempa dan urat keberanian kita dilatih.

Gugup di penampilan pertama, kedua, atau kesepuluh itu sangat wajar. Kiai dan para asatidz pun dulunya pernah berada di titik yang sama—berdiri dengan lutut gemetar di depan teman-temannya.

Salah Kata Adalah Sunnatullah

Bagaimana kalau di tengah pidato tiba-tiba nge-blank? Bagaimana kalau mukadimah bahasa Arab-nya belibet, lalu kita cuma bisa mengulang-ulang kalimat “amma ba’du… amma ba’du” sampai teman-teman se-aula tertawa? Tidak apa-apa. Tertawakan saja dirimu sendiri.

Salah kata, keliru menyitir ayat, atau lupa materi di tengah jalan bukanlah sebuah kegagalan. Itu adalah bagian paling normal dari sebuah proses belajar. Tertawaan teman-teman asrama hari ini akan menjadi bahan candaan yang paling dirindukan saat acara reuni sepuluh tahun yang akan datang.

Jam Terbang Mengalahkan Bakat

Satu-satunya cara untuk membunuh rasa takut adalah dengan menabraknya berkali-kali. Semakin sering kamu memaksa dirimu berdiri di depan banyak orang, semakin terbiasa pula sel-sel tubuhmu merespons tekanan. Perlahan, suara yang tadinya bergetar akan mulai stabil. Mata yang tadinya hanya berani menatap plafon atau ujung kaki, perlahan akan berani menatap langsung ke mata para audiens.

Yang paling penting di mimbar muhadhoroh bukanlah tampil dengan sempurna dan tanpa celah. Yang dinilai oleh para musyrif (pembimbing) adalah tekadmu untuk terus mau maju dan tidak berhenti di tengah jalan. Selesaikan pidatomu, betapapun kacaunya itu. Turunlah dari mimbar dengan dada tegak, karena kamu baru saja memenangkan pertarungan melawan ketakutanmu sendiri.

Jadi, untuk kamu yang minggu depan kebagian jadwal naik mimbar: siapkan teksmu, rapikan peci atau kerudungmu, dan majulah. Kamu pasti bisa melaluinya.

Nah, untuk teman-teman yang sudah lulus atau yang pernah melewati fase ini: coba ingat-ingat lagi, saat muhadhoroh dulu, bagian mana sih yang paling bikin kamu deg-degan setengah mati? Apakah saat menunggu nama dipanggil, saat lupa mukaddimah, atau saat mikrofonnya tiba-tiba mati? Yuk, ceritakan di kolom komentar!*rdp

Pesantren

Komentar

Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Artikel Lainnya

Drama Minta “Boyong”: Saat Anak Merengek Berhenti Mondok, Orang Tua Harus Apa?
Bagi orang tua santri, tak ada momen yang lebih meruntuhkan pertahanan hati sela...
Tue, 5 May 2026 | 7:35
Awas Jebakan Bukber: Sibuk Sunnah, Lupa Wajib!
Memasuki pekan kedua dan ketiga bulan Ramadhan, biasanya grup-grup WhatsApp mula...
Sun, 1 March 2026 | 8:28
Di Balik Sepiring Menu Bergizi: Cerita "Surat Cinta" hingga Perjuangan Menakar Selera
Ada sisi lain yang menghangatkan suasana di ruang meeting SPPG Diponegoro pada S...
Tue, 20 January 2026 | 8:40
Dari Soal Rasa hingga Kendala Susu: Ini Hasil Koordinasi SPPG Diponegoro dan Kepala Lembaga
Sleman – Dalam upaya menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas layanan progr...
Tue, 20 January 2026 | 7:43