62851-7979-1926
info@ponpesdiponegoro.com
🔍 Pencarian Cepat

Cari Berita & Artikel

Temukan informasi terbaru seputar pondok pesantren, santri, kegiatan, artikel, dan pengumuman resmi.

Perempuan Lebih dari Sekadar Berkebaya
Perempuan Lebih dari Sekadar Berkebaya
Mon, 21 April 2025 6:39
WhatsApp Image 2025-04-21 at 6.21.49 AM

Setiap 21 April, banyak dari kita merayakan Hari Kartini dengan berkebaya. Anggun, tentu. Sarat makna, jelas. Kebaya adalah warisan budaya—tenunan kasih ibu, jahitan sejarah, sulaman identitas perempuan Nusantara. Tapi cukupkah?

Kartini tidak dikenang karena pakaiannya, melainkan karena pikirannya. Ia menulis dalam sepi, melawan gelap dengan pena, menggugat nasib dengan suara nyaris tak terdengar. Maka tugas kita kini bukan sekadar melestarikan bentuk, tapi meneruskan semangatnya: bahwa perempuan berhak berpikir, bermimpi, menentukan hidupnya.

Saya punya kawan perempuan yang tiap hari berkebaya. Tapi ia kerap gusar jika melihat perempuan berkebaya mengenakan jilbab. “Budaya jangan dicampur dengan agama,” katanya.

Sebaliknya, seorang kawan lain yang berjilbab panjang protes ketika melihat perempuan berjilbab memakai kebaya. “Terlalu menonjolkan lekuk tubuh,” ujarnya. “Agama jangan dikompromikan dengan budaya.”

Keduanya, walau berbeda, sama-sama berangkat dari asumsi bahwa budaya dan agama saling bertentangan—seakan tak mungkin berdamai dalam satu tubuh perempuan.

Padahal bukan itu semangat yang hendak dihembuskan Kartini.

Kepada Ny. Abendanon, Kartini menulis bahwa ia ingin perempuan pribumi bebas dari kungkungan tradisi, tapi tak tercerabut dari akar. Ia tak ingin benturan, melainkan dialog—antara adat dan kemajuan, antara iman dan kebebasan.

Kartini adalah jembatan, bukan pagar. Ia tahu dunia bergerak maju, dan perempuan tak boleh dipaksa memilih antara masa lalu dan masa depan.

Maka di Hari Kartini ini, mengenakan kebaya boleh. Merawat budaya itu baik. Tapi jangan berhenti di situ. Karena menjadi perempuan merdeka bukan soal kain apa yang membalut tubuhmu—tapi pikiran apa yang kau perjuangkan, dan nilai apa yang kau bawa maju. Dan di sanalah, Kartini masih hidup.

Untuk lelaki, kaum “Kartono”, berhentilah menilai perempuan hanya dari pakaiannya. OK, bro?

Pesantren

Komentar

Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Artikel Lainnya

Jaga Istiqamah dan Mutu Pengajaran, Madin Ponpes Pangeran Diponegoro Gelar Evaluasi KBM Pekanan
Mempertahankan kualitas pendidikan dan konsistensi (istiqamah) para pengajar men...
Sat, 25 July 2026 | 6:07
MA Diponegoro Perkuat Branding dan Sinergi, Siap Hadapi Tantangan Pendidikan Masa Depan
Suasana sejuk lereng Gunung Merapi di Kopi Luwak Merapi, Turi, Sleman, menjadi s...
Tue, 7 July 2026 | 9:28
Jadi Tuan Rumah Konfercab XV PCNU Sleman, Kompleks PP Pangeran Diponegoro Sembego Mulai Bersiap
Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro Sembego, Maguwoharjo, Depok, Sleman, resmi ...
Fri, 3 July 2026 | 7:59
Menepis Manja, Memeluk Mandiri: Saat "Generasi Gadget" Mulai Mengeja Kitab di Ponpes Pangeran Diponegoro
Suara riuh rendah memenuhi aula pendaftaran Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro...
Sat, 27 June 2026 | 9:53