
Dalam perjalanan menjadi santri, setiap kita pasti memiliki sosok guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan adab yang menjadi cahaya dalam kehidupan. Begitu pula pengalaman saya bersama beliau — KH M Syakir Ali MSi pengasuh Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro — sosok kiai yang saya kenal sebagai pribadi visioner, sederhana, dan penuh kasih.
Beliau selalu memiliki pandangan jauh ke depan. Seolah tahu apa yang akan menjadi persoalan umat di masa mendatang. Di tengah maraknya isu tentang hubungan antara kiai dan santri yang sering disalahpahami sebagai praktik feodalisme, saya justru teringat dua sikap sederhana beliau yang menjadi bukti nyata bahwa yang beliau ajarkan bukanlah kekuasaan, melainkan adab dan kesederhanaan.
1. Kesederhanaan dan Tawadhu’
Setiap kali ada tamu yang sowan ke rumah beliau, siapapun tamunya, jika tamu itu dengan hormat memilih duduk di karpet, beliau akan segera memintanya berpindah duduk di atas sofa — sejajar dengan posisi beliau.
Sikap ini tampak sederhana, tetapi mengandung pelajaran mendalam. Dari beliau, kami belajar bahwa tawadhu’ tidak berarti merendahkan diri, melainkan tidak ingin merasa lebih tinggi dari siapapun. Beliau mengajarkan bahwa kesetaraan dalam penghormatan jauh lebih bermakna daripada formalitas yang berjarak.
2. Menolak Sekat antara Kiai dan Santri
Saya juga teringat satu peristiwa lain. Suatu ketika, para pengurus pondok pernah mengusulkan untuk membuat jalan alternatif agar para santri tidak perlu berjalan tepat di depan rumah beliau. Tujuannya agar lebih sopan.
Namun, beliau menjawab dengan penuh kearifan dalam bahasa Jawa:
“Wes rausah. Pokok bocah ora playon.”
(Sudah tidak usah. Asal anak-anak tidak berlari-lari.)
Jawaban itu singkat, namun sarat makna. Beliau menolak adanya sekat antara dirinya dan para santri. Selama adab dijaga, maka tidak perlu ada jarak. Bagi beliau, rumah kiai bukan tempat yang harus dihindari, melainkan bagian dari kehidupan santri yang penuh kehangatan.
Adab, Bukan Feodalisme
Dua kisah sederhana ini sesungguhnya mencerminkan prinsip besar yang beliau ajarkan: adab dan kesederhanaan.
Beliau tidak pernah menanamkan struktur kekuasaan, melainkan menumbuhkan nilai-nilai penghormatan tanpa kesombongan, kedekatan tanpa kehilangan kepantasan, serta wibawa tanpa jarak.
Dalam dunia yang serba cepat dan sering kehilangan makna, teladan KH M Syakir Ali MSi menjadi pengingat bahwa adab adalah inti dari ilmu, dan kesederhanaan adalah kemuliaan yang sejati.
Profil Singkat
KH M Syakir Ali MSi adalah Pengasuh Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro.
Beliau dikenal sebagai sosok ulama berwawasan luas yang mengedepankan pendidikan, adab, dan pembentukan karakter santri. Dengan visi yang jauh ke depan, beliau berkomitmen mencetak generasi berakhlak mulia, berilmu, dan bermanfaat bagi umat.
Oleh: Said Al Khudri | Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga | Alumni Ponpes Diponegoro